Senin, 03 Agustus 2009

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 25

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 25

Oleh Herdi Pamungkas

“Tentu saja. Karena saya orang biasa dan seperti halnya orang lain, punya ambisi. Sebab saya bukanlah Syekh Siti Jenar.” ujar Kebo Benowo. “Namun seandainya kita memiliki keinginan seperti andika jelaskan tadi tentunya harus dengan cara lain.”

“Cara lain?” Loro Gempol meletakan telunjuk di keningnya.

“Ya, karena jika ingin memberontak. Kita harus mengukur kekuatan pasukan kita, lalu bandingkan dengan kekuatan demak. Pikirkan pula tentang logistik kita selama berperang, selain itu ilmu kadigjayaan kita sudah sejauhmana, mungkinkah bisa mengalahkan para wali yang berilmu tinggi?” ujar Kebo Benowo.

“Benar juga, Ki.” Loro Gempol mengangguk-anggukan kepala.

“Itulah yang mesti kita pertimbangkan sebelum bertindak.” timpalnya. “Kita haruslah berpikir matang jika tidak ingin mati sia-sia, seperti halnya anai-anai menyambar api.”

“Jika demikian harus bagaimana caranya, Ki?” Loro Gempol menatap Kebo Benowo, seraya dahinya mengkerut.

“Itulah yang mesti kita pikirkan…” Kebo Benowo memijit dahinya.

Keadaan hening sejenak, pikiran mereka menerawang ke alam kejadian yang akan datang. Berbagaimacam cara mereka olah dan cerna, demi tercapainya ambisi kekuasaan.

***

“Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo.

“Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh.” Syekh Siti Jenar menatap langit, “Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar di ketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan.”

“Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?”

“Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur batas, menjauh dan mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar.

Bersambung………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar