Senin, 03 Agustus 2009

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 47

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 47

“Rasanya, tidak perlu dipahami untuk saat ini. Pemahaman tentang hal tadi akan andika genggam menjelang peristiwa itu mendekat.” terang Syekh Siti Jenar tenang. “Meski andika tahu akan hal tadi, amalkanlah hamamayu hayuning bawana. Bertebaranlah seperti sebelumnya andika di atas tanah jawa dwipa ini untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam.”

“Baiklah, Syekh. Saya tetap akan menebar rahmat bagi sekalian alam. Rahmatan lil alamin, hamamayu hayuning bawana.” ujar Ki Bisono. “Karena apa pun yang saya lakukan dalam penyebaran agama Islam ini bukan untuk mencari popularitas, bayaran, apalagi jabatan atau kekuasaan, serta pengaruh, namun itu semua saya dasari dengan keikhlasan dan keridlaannya. Semoga pula Allah SWT. meridloinya.”

“Amin.”

***

“Malam ini cuaca cerah. Lihatlah bintang-gemintang berkedap-kedip di langit!” Joyo Dento mengangkat kepalanya mendongak ke langit, ” Persiapkanlah diri kalian, senjata, kuda, dan akal.” lalu menatap pasukan berpakaian serba hitam yang berbaris rapih.

Mereka sejumlah pasukan pemberontak yang telah mendapat gemblengan olah kanuragan dari para pendekar berlatar rampok, Kebo Benowo dan kawan-kawan. Disamping ilmu keprajuritan dari Joyo Dento.

“Bagaimana kesiapan andika semua?” Kebo Benowo keluar dari sebuah pendopo yang dijadikan markas. Tempat yang mereka diami terpencil dari penduduk, karena berada tepat di pinggiran hutan.

“Saya kira mereka suda siap, Ki Benowo.” ujar Joyo Dento mendekat.

“Baguslah jika telah siap.” Kebo Benowo mengangguk-angukan kepala. “Sasaran pertama?”

“Tentu saja sesuai dengan rencana.” Joyo Dento setengah berbisik, “Malam ini kita harus bisa melumpuhkan Kademangan Bintoro. Jika sudah berhasil, langsung kita duduki dan kuasai. Disanalah selanjutnya pusatkan sebagian kekuatan kita, lalu perlebar sayap.”

“Hahaha….andika memang cerdas, Dento.” raut wajah Kebo Benowo berseri, “Namun sudah memungkinkankah kita menggempur Kademangan Bintoro?”

“Saya kira mungkin, Ki Benowo. Sebab kekuatan Kademangan Bintoro sudah melemah. Daya pikir rakyatnya sudah terpengaruh dengan ajaran hidup untuk mati. Yang andika ajarkan dari Syekh Siti Jenar itu, sehingga mereka banyak yang bunuh diri dan tidak semangat hidup.” terang Joyo Dento, “Apalagi membela negerinya dari serangan kita, memikirkan diri sendiri pun sudah tidak tenang.”

“Benar, Dento.” seringai Kebo Benowo, “Hebat juga pengaruh ilmu Syekh Siti Jenar jika demikian…terutama untuk membuat kekacauan.”

“Kapan kita akan berangkat?” Loro Gempol menyilangkan golok di dadanya, “Rasanya saya sudah tidak sabar ingin memenggal leher penguasa Kademangan Bintoro!”

Bersambung……….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar